dkv@isi.ac.id 0274-381590

Kabar



International Community Engagement

TRANSMEDIA ART CAMP


          UUI (Unit Urusan Internasional) Institut Seni Indonesia Yogyakarta melalui program hibah PKKUI (Penguatan Kelembagaan Kantor Urusan Internasional) yang dikelola oleh Direktorat Pembinaan Kelembagaan Pendidikan Tinggi mengajukan program International Community Engagement (ICE). ICE kali ini sebagai pelaksananya adalah prodi DKV ISI Yogyakarta. Dan ICE tahun 2019 melibatkan dua perguruan tinggi yaitu ISI Yogyakarta dan Silpakorn University Thailand serta dua Lembaga pemerintah sebagai mitra yaitu Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta dan Balai Pelesatarian Nilai Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta.


          Untuk ICE tahun 2019 mengambil judul program Transmedia Art Camp. Pemilihan judul ini mengingat bahwa program ICE ini nantinya akan terus berkelanjutan di tahun-tahun berikutnya dan tetap melalui kerjasama yang sinergis antara perguruan tinggi di luar negeri yang kemungkinan akan terus bertambah pesertanya dan juga pemerintah daerah setempat sebagai mitra yang mendukung pelaksanaan kegiatan ini karena berkaitan dengan ranah pariwisata.


          Adapun konsep utama Transmedia Art Camp adalah membuat buku ilustrasi yang terkait dengan kampung wisata yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Seperti yang diketahui bersama bahwa kota Yogyakarta memiliki 17 kampung wisata yang diprioritaskan menjadi destinasi wisata kota Yogyakarta. Tujuh belas kampung wisata tersebut dibawah koordinasi Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta memiliki keunikan masing- masing baik dari sisi budaya, sejarah maupun kuliner. Sehingga keunikan yang bisa disebut juga sebagai potensi dalam konteks DKV akan sangat menarik jika dikomunikasikan dalam bentuk ilustrasi buku. Nantinya ilustrasi buku tersebut menjadi koleksi kampung wisata, sebagai bagian dari elemen promosi dari kampung tersebut dan sebagai dokumentasi visual yang artistik pula bagi kampung wisata yang dipilih.


          Berdasarkan diskusi antara DKV ISI Yogyakarta dengan Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta maka dipilih tiga kampung wisata yang nantinya menjadi obyek dari kegiatan ICE, yaitu Kampung Wisata Purbayan, Kampung Wisata Dewo Bronto, dan Kampung Wisata Gedongkiwo. Dipilihnya ketiga kampung tersebut karena ketiganya telah diakreditasi dan tentu saja memiliki keunikan tersendiri, khas, menarik untuk diangkat sebagai materi ICE.


          Terkait dengan konteks budaya, dalam ICE kali ini juga menggandeng mitra Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Daerah Istimewa Yogyakarta. BPNB dipilah agar selain para peserta ICE mengikuti workshop juga mengenal tentang salah satu tempat bersejarah yang saat ini menjadi kantor dari BPNB. Lewat pemaparan dari pihak BPNB maka para peserta workshop bisa mengetahui sejarah tentang tempat tersebut yang berkaitan dengan tokoh kesenian dan kebudayaan yaitu Joyodipura dan sejarah pergerakan kebangsaan Jong Java I, Konggres Jong Java II, dan Konggres Perempuan I.


          Selain itu ilustrasi buku yang dihasilkan oleh para mahasiswa ini akan menjadi bagian penting dari keterlibatan akademisi dan mahasiswa Yogyakarta dan internasional dalam berperan secara tidak langsung bagi pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta. Boleh jadi, seperti yang telah dicanangkan dimuka bahwa pada akhirnya akan ada kelanjutan program ini di kemudian hari dengan melibatkan wilayah yang lebih besar dan luas dan semoga menjadi prototipe awal bagi pengembangan yang berkesinambungan bagi program ICE ini di masa depan.


          Program ini diawali dengan kunjungan lapangan yang membawa para peserta ke tiga desa wisata yang ditunjuk oleh Kantor Pariwisata Kota Yogyakarta, yaitu kampung wisata Purbayan, Dewo Bronto, dan Gedong Kiwo. Workshop dan kuliah diadakan di ISI Yogyakarta, yaitu di Sasana Aji Yasa FSR ISI Yogyakarta dan presentasi publik akhir diadakan di Kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta dengan mengundang kampung wisata Purbayan, Dewo Bronto, Gedong Kiwo dan juga Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta.