dkv@isi.ac.id 0274-381590

Kabar



DKV ISI YK Terima Kunjungan Dari UMP




Kamis, 3 Juni 2021 bertempat di ruang sidang lantai dua. Program Studi Desain Komunikasi Visual, FSR ISI Yogyakarta menerima kunjungan dari delegasi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Kunjungan tersebut dalam rangka studi banding untuk pendirian Progam Studi Desain Komunikasi Visual di UMP.

 

Kunjungan ini dihadiri oleh tim pendiri Prodi Desain Komunikasi Visual UMP, dan disambut oleh Kaprodi dan beberapa dosen DKV ISI Yogyakarta

 

Pada acara tersebut Daru Tunggul Aji, S.S., M.A, selaku kaprodi DKV ISI Yogyakarta mempresentasikan perihal DKV dan ruang lingkupnya. Menurutnya, saat ini Prodi DKV menjadi salah satu program studi yang cukup favorit dan banyak menarik minat calon mahasiswa. Hal ini tidak terlepas dari perkembangan budaya, media, dan teknologi. Terlebih lagi saat ini aspek visual menjadi poin yang cukup penting dalam keseharian. Bukan hanya dalam ranah industri, namun juga dalam kehidupan masyarakat yang hampir selalu bersinggungan dengan (budaya) visual. 

 

Program studi desain komunikasi visual tidak hanya mengunggulkan perancangan karya desain, namun juga penelitian dan publikasi karya dari mahasiswa. Hal ini ditunjukan dari terbitan buku dari tugas mahasiswa yang menjadi luaran wajib dari mata kuliah kajian di prodi DKV FSR ISI YK.

 

Terkait pendirian Prodi DKV UMP, Dekan Fakultas Sastra UMP, Ambar Pujiyatno, S.S., M.Hum menyampaikan rencana DKV UMP akan dibawah Fakultas Ilmu Budaya dan Komunikasi, kerena melihat prospek dan kebutuhan masyarakat saat ini yg sangat membutuhkan tenaga ahli dibidang desain Komunikasi visual.









Sinergikan Keunggulan yang Dimiliki, Lab IP UMY dan DKV ISI Yogyakarta Jalin Kerjasama TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA-




Laboratorium Ilmu Pemerintahan (IP) UMYresmi menjalin sinergi dan kerjasama, dengan Program Studi Desain Komunikasi Visual ISI Yogyakarta, Jumat (28/5/2021). Kerjasama tersebut, dalam rangka implementasi Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), yang mencakup delapan program. Meliputi, magang, riset, proyek indipenden dan kemanusiaan, pertukaran pelajar, asistensi mengajar, membangun desa, hingga kegiatan wirausaha.


Koordinator Lab IP UMY, Sakir Ridho Wijaya menyampaikan, selama ini pihaknya banyak melakukan kerja-kerja di wilayah pemberdayaan desa. Namun, ia tak menampik, diperlukan semacam terobosan agar kedepannya semakin inovatif. "Kami menginginkan sebuah hal yang inovatif. Apalagi, saat ini jamannya teknologi dan aspek visual sangat penting. Lalu, kami melihat potensi kolaborasi dengan DKV ISI Yogya ini untuk menuju ke arah sana," tandasnya. Sakir mengatakan, inovasi digital dan visual ialah kebutuhan mutlak, guna menunjang kemajuan desa, khususnya di area DI Yogyakarta. Lebih dari itu, inovasi digital dan visual juga bermanfaat bagi mahasiswa Ilmu Pemerintahan UMY"Kita bisa mengajak mahasiswa melihat realitas di lapangan, sekaligus merespon fenomena dengan ide-ide kreatif, yang dapat bermanfaat bagi masyarakat luas," ucapnya.


Sementara Ketua Program Studi DKV ISI Yogya, Daru Tunggul Aji mengungkapkan, kedua belah pihak telah mencapai kata sepakat, untuk saling bersinergi dalam hal digital kreatif, kemudian mengenai pemberdayaan masyarakat desa. "Saya melihat keduanya mempunyai nilai lebih di bidang masing-masing. Lab IP banyak bergerak di wilayah UMKM dan desa, lalu kami memiliki bekal yang mumpuni dalam digital dan visual," terangnya. "Mata kuliah kami banyak bergerak di bidang visual, sehingga kebutuhan riset dalam proyek kerja sama ini menarik untuk meningkatkan kompetensi, sekaligus memperluas pergaulan akademik dan non akademik," imbuh Daru



Artikel ini telah tayang di TribunJogja.comdengan judul Sinergikan Keunggulan yang Dimiliki, Lab IP UMY dan DKV ISI Yogyakarta Jalin Kerjasama, https://jogja.tribunnews.com/2021/05/28/sinergikan-keunggulan-yang-dimiliki-lab-ip-umy-dan-dkv-isi-yogyakarta-jalin-kerjasama.
Penulis: Azka Ramadhan 
Editor: Kurniatul Hidayah 


  


 



Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama dengan Program Studi Ilmu Sejarah UNY

 



Bertempat di Ruang MBKM Prodi DKV. Pada hari ini, Rabu, 17 Maret 2021. Program Studi Desain Komunikasi Visual melakukan penandatanganan perjanjian kerja sama dengan Program Studi Ilmu Sejarah, UNY. Kedua Program Studi sepakat untuk melakukan kerja sama dalam rangka penerapan kurikulum Merdeka Belajar, Kampus Merdeka (MBKM). 

 

Hingga saat ini prodi DKV sudah menjalin kerja sama dengan PT lain, Non PT, dan juga industri. Kedepannnya kelengkapan kerja sama dalam rangka persiapan MBKM terus dikebut dan juga untuk menambah mitra agar kurikulum MBKM dapat berjalan maksimal.





DKV ISI YK SIAP KOLABORASI

DENGAN LAB. IP UMY





Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV), Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta pada hari ini (Senin, 15 Maret 2021) menggelar pertemuan dengan Kepala Laboratorium Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Pertemuan bertujuan untuk saling berbagi sudut pandang terkait penyelanggaraan Kurikulum Merdeka Belajar, Kampus Merdeka 2021.

Laboratorium Ilmu Pemerintahan merupakan bagian dari Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, yang memiliki fungsi utama sebagai fasilitator dan penyelenggara kegiatan praktikum mata kuliah program studi Ilmu Pemerintahan. Seperti kita ketahui bersama bahwa Laboratorium Ilmu Pemerintahan UMY telah secara resmi berdiri dan mulai aktif sejak tahun 2003 sebagai hasil integrasi PKKMP (Pusat Kajian Kebijakan & Manajemen Publik) ke dalam Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. 

Pertemuan ini ditujukan untuk berbagi perspektif sekaligus melihat kebutuhan mahasiswa saat ini dan di masa yang akan datang. Mengingat ranah DKV yang multidisiplin, sehingga kita menjalin kemitraan lintas disiplin, agar kedepannya dapat membuka pergaulan akademik yang semakin luas bagi mahasiswa maupun dosen-dosennya. Terlebih lagi selama ini Ilmu Pemerintahan UMY banyak bekerja dalam ruang lingkup pemberdayaan masyarakat desa. Hal ini senada dengan apa yang sudah dilakukan oleh prodi DKV dalam perkuliahan DKV Visual Branding, maupun Proyek Desain, ujar Daru Aji, Selaku Ketua Program Studi Desain Komunikasi Visual.

Selanjutnya, Sakir Ridho Wijaya, M.Si selaku kepala Lab. IP UMY menambahkan bahwa Program Kolaborasi MBKM antara Prodi Ilmu Pemerintahan UMY dan Prodi DKV ISI Jogja merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa dan dosen dalam berkarya.Kedepannya kedua prodi akan terus mematangkan program kerja sama ini sehingga dapat memberikan sumbangsih bagi ranah akademik maupun non akademik di antar kedua belah pihak.


 



Peresmian Studio Parsuki dan 

Peluncuran Digital Collection DKV



Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta pada hari ini (Senin, 1 Maret 2021) menggelar peresmian studio audio visual yang diberi nama Studio Parsuki dan peluncuran Digital Collection DKV yang diresmikan oleh Dekan Fakultas Seni Rupa Dr. Timbul Raharjo, M.hum. DKV ISI Jogja sudah banyak memberikan sumbangsih terhadap aspek-aspek visual di Indonesia. Seperti misalnya Drs. Sadjiman merancang logo UNS dan STSI Padang Panjang, Drs. Lasiman merancang logo MTQ, Drs. Asnar Zacky dan Tim merancang logo ISBI Kaltim. Selanjutnya, yang terbaru ada Edi Jatmiko yang merancang karya logo UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan masih banyak lagi.

Dalam rangka persiapan Kampus Merdeka, Merdeka Belajar (MBKM), kami dari prodi mulai mempersiapkan segala sesuatu yang nantinya akan menunjang proses pembelaran, termasuk studio audio visual yang nantinya dapat digunakan sebagai ruang siar, baik untuk kepentingan akademik maupun non akademik, terlebih lagi saat ini proses pembelajaran perlu ditunjang dengan konsep daring, ujar ketua program studi DKV, Daru Tunggul Aji atau lebih akrab di sapa Daru Aji.

Terkait nama studio, Daru Aji menuturkan, studio audio visual di lantai tiga ini, atas usul Baskoro Suryo Banindro, salah satu dosen di DKV, kami sepakat untuk memberi nama Studi Parsuki. Parsuki sendiri merupakan nama salah satu dosen di Prodi DKV. Namanya layak kita ingat dan kita kenang  untuk masuk dalam catatan sejarah DKV. Beliau merupakan generasi pertama Seni Reklame ASRI tahun 1964. Dan pada kisaran 1988, Drs. Parsuki pernah dikirim ke Inggris untuk mengikuti diklat audio visual di Manchester. Satu tahun semenjak kepulangannya ke tanah air, Drs. Parsuki memasukan mata kuliah audio visual ke dalam kurikulum DKV. 

Selain itu sosok Parsuki juga telah banyak menorehkan namanya dalam karya-karya visual, di antaranya adalah Drs. Parsuki dan tim pernah merancang logo Kemdikbud (bertuliskan Tut Wuri Handayani) yang saat ini digunakan. Selain itu, beliau bersama tim juga melakukan kerja kreatif dalam perancangan logo ISI Yogyakarta. Dua karya ini disimpan di digital collcetionnya Prodi DKV, baik karya asli maupun dalam bentuk digital. Sebagai pengagas Digital Collection, Daru Aji menuturkan bahwa dengan adanya ruang arsip digital ini yang kedepannya dapat menjadi ruang penyimpanan karya-karya desain mahasiswa ataupun alumni DKV.

Setelah peresmian studio, Prodi DKV langsung menggelar dua rekaman dengan tajuk DKV On Air: “Tribute To Parsuki”yang dihadiri oleh Drs. Risman Marah dan Drs Umar Hadi selaku teman sejawat beliau, dan Tanto Harthoko M.Sn, yang merupakan putra dari Bapak Parsuki. Selanjutnya DKV On Air juga melakukan rekaman kedua dengan tajuk “DKV dan Arsip Visual”.Diskusi ini dipandu oleh P. Gogor Bangsa, M.Sn serta menghadirkan dua narasumber, yakni Lilyana Mulya, S.S., M.A dosen Prodi Kearsipan UGM yang saat ini sedang menempuh kuliah di Univeristy of Amsterdam dengan jurusan Archival Studies, dan Indiria Maharsi, S.Sn., M.Sn (dosen Prodi DKV ISI Jogja). Menurut Lily, pengarsipan dalam ranah akademik adalah hal yang wajib dilakukan, terlebih lagi DKV karena hal ini berkaitan dengan perkembangan pendidikan seni desain dan sejauh mana anak muda merekam/merespon event-even/keadaan sosial di sekitar mereka, ujarnya.

Di akhir acara, Daru Aji menyampaikan pendapatnya terkait gagasan Digital Collection DKV. Meski baru di mulai, dan secara bertahap kita akan terus coba menata dan mengarsipkan karya-karya yang pernah ada. Sebagai sebuah program studi yang banyak berorientasi pada karya-karya visual, maka tidak ada pilihan lain kecuali melakukan pengelolaan arsip visual secara baik. Pengelolaan arsip menjadi bentuk tanggung jawab program studi sebagai sebuah lembaga sekaligus bentuk apresiasi terhadap kerja-kerja kreatif yang telah dilakukan oleh  insan DKV FSR ISI Yogyakarta. 

Ruang virtual bernama "Digital Collections" ini diharapkan tidak sekadar menjadi ruang penyimpanan karya, namun juga ruang "dialogis" antara karya visual, fakta persitiwa dan juga bagaimana DKV berperan dari masa ke masa. Bagi kami, artefak visual bukan saja materi yang harus dirawat, namun juga harus diingat. Karena sebaik-baiknya disiplin ilmu adalah mereka yang mampu merawat perjalanan akademiknya serta mampu mengambil langkah ke masa depan dengan berpijak pada pengalaman-pengalaman masa lampau, tambahnya.


   




International Community Engagement

TRANSMEDIA ART CAMP


          UUI (Unit Urusan Internasional) Institut Seni Indonesia Yogyakarta melalui program hibah PKKUI (Penguatan Kelembagaan Kantor Urusan Internasional) yang dikelola oleh Direktorat Pembinaan Kelembagaan Pendidikan Tinggi mengajukan program International Community Engagement (ICE). ICE kali ini sebagai pelaksananya adalah prodi DKV ISI Yogyakarta. Dan ICE tahun 2019 melibatkan dua perguruan tinggi yaitu ISI Yogyakarta dan Silpakorn University Thailand serta dua Lembaga pemerintah sebagai mitra yaitu Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta dan Balai Pelesatarian Nilai Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta.


          Untuk ICE tahun 2019 mengambil judul program Transmedia Art Camp. Pemilihan judul ini mengingat bahwa program ICE ini nantinya akan terus berkelanjutan di tahun-tahun berikutnya dan tetap melalui kerjasama yang sinergis antara perguruan tinggi di luar negeri yang kemungkinan akan terus bertambah pesertanya dan juga pemerintah daerah setempat sebagai mitra yang mendukung pelaksanaan kegiatan ini karena berkaitan dengan ranah pariwisata.


          Adapun konsep utama Transmedia Art Camp adalah membuat buku ilustrasi yang terkait dengan kampung wisata yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Seperti yang diketahui bersama bahwa kota Yogyakarta memiliki 17 kampung wisata yang diprioritaskan menjadi destinasi wisata kota Yogyakarta. Tujuh belas kampung wisata tersebut dibawah koordinasi Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta memiliki keunikan masing- masing baik dari sisi budaya, sejarah maupun kuliner. Sehingga keunikan yang bisa disebut juga sebagai potensi dalam konteks DKV akan sangat menarik jika dikomunikasikan dalam bentuk ilustrasi buku. Nantinya ilustrasi buku tersebut menjadi koleksi kampung wisata, sebagai bagian dari elemen promosi dari kampung tersebut dan sebagai dokumentasi visual yang artistik pula bagi kampung wisata yang dipilih.


          Berdasarkan diskusi antara DKV ISI Yogyakarta dengan Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta maka dipilih tiga kampung wisata yang nantinya menjadi obyek dari kegiatan ICE, yaitu Kampung Wisata Purbayan, Kampung Wisata Dewo Bronto, dan Kampung Wisata Gedongkiwo. Dipilihnya ketiga kampung tersebut karena ketiganya telah diakreditasi dan tentu saja memiliki keunikan tersendiri, khas, menarik untuk diangkat sebagai materi ICE.


          Terkait dengan konteks budaya, dalam ICE kali ini juga menggandeng mitra Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Daerah Istimewa Yogyakarta. BPNB dipilah agar selain para peserta ICE mengikuti workshop juga mengenal tentang salah satu tempat bersejarah yang saat ini menjadi kantor dari BPNB. Lewat pemaparan dari pihak BPNB maka para peserta workshop bisa mengetahui sejarah tentang tempat tersebut yang berkaitan dengan tokoh kesenian dan kebudayaan yaitu Joyodipura dan sejarah pergerakan kebangsaan Jong Java I, Konggres Jong Java II, dan Konggres Perempuan I.


          Selain itu ilustrasi buku yang dihasilkan oleh para mahasiswa ini akan menjadi bagian penting dari keterlibatan akademisi dan mahasiswa Yogyakarta dan internasional dalam berperan secara tidak langsung bagi pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta. Boleh jadi, seperti yang telah dicanangkan dimuka bahwa pada akhirnya akan ada kelanjutan program ini di kemudian hari dengan melibatkan wilayah yang lebih besar dan luas dan semoga menjadi prototipe awal bagi pengembangan yang berkesinambungan bagi program ICE ini di masa depan.


          Program ini diawali dengan kunjungan lapangan yang membawa para peserta ke tiga desa wisata yang ditunjuk oleh Kantor Pariwisata Kota Yogyakarta, yaitu kampung wisata Purbayan, Dewo Bronto, dan Gedong Kiwo. Workshop dan kuliah diadakan di ISI Yogyakarta, yaitu di Sasana Aji Yasa FSR ISI Yogyakarta dan presentasi publik akhir diadakan di Kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta dengan mengundang kampung wisata Purbayan, Dewo Bronto, Gedong Kiwo dan juga Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta.