dkv@isi.ac.id 0274-381590

Sosok



Bersama Asnar Zacky

Memperbicarakan Komik di Indonesia dari Media hingga Ruang Kelas

Daru Aji


Komik bukan sekadar menggambar tapi juga meneliti.

-Asnar Zacky-


          Kemampuan (menggambar) manual menjadi ciri khas dari seorang  Asnar Zacky. Goresan tangannya begitu khas. Lebih dari 20 tahun, Asnar Zacky mengampu mata kuliah komik (saat ini bernama: Seni Gambar Sekuensial). Dalam konteks kebudayaan visua di Indonesia Komik Indonesia memiliki rentang sejarah yang cukup panjang. Jika kita hitung sejak kemunculan Put On pada 1931 sampai kini, maka kurang lebih kemunculan komik di Indonesia sudah memasuki usia 80 tahun lebih. Memperbincangkan Komik di Indonesia tak bisa dilepaskan dari andil media. Media memiliki andil yang cukup besar dalam sejarah komik indonesia. Tercatat Put On karya Kho Wan Gie sebagai komik yang pertama muncul melalui surat kabar Sin Po pada 1931. Sin Po sendiri merupakan sebuah media berbahasa Melayu. Seminggu sekali, pada hari jumat atau sabtu media ini memuat komik strip yang menceritakan sosok jenaka Put On. Penayangan Put On terhitung cukup lama, setelah Sin Po dilarang terbit pada 1960, Put On berlanjut melalui Warta Bhakti 1.


          Dari awal kemunculan hingga perjalanannya kini komik di Indonesia tidaklah berjalan mulus, banyak kendala yang muncul di antaranya; faktor sosial, ekonomi, dan politik. Salah satu faktor yang timbul-tenggelam di masyarakat adalah stigma terhadap komik. Komik pernah dianggap sebagai penghambat prestasi belajar siswa, karena dengan membaca komik dianggap akan mengganggu jam belajar sehingga prestasi  dikhawatirkan menurun bahkan dianggap –mampu- mempengaruhi mental dan ideologi pembaca komik, tentu saja ini jauh sebelum televisi dan internet berkembang seperti saat ini. Meski tidak menutup kemungkinan, bahwa saat ini masih ada yang memiliki anggapan negatif tehadap komik. Perlahan stigma-stigma itu mulai luruh dengan mulai banyaknya kajian-kajian komik dan penggunaan komik sebagai media pembelajaran yang semakin digemari. Salah satu faktornya adalah kekuatan visual dalam komik.


          Mengutip Seno Gumira Ajidarma (2011) sepanjang tahun ’80-an dan ’90-an, pameran, diskusi, laporan jurnalistik, bahkan seminar komik tidak pernah sampai ke suatu pendalaman ilmiah. Menurutnya, sebagaian besar topik perbincangan selalu berkisar pada dua hal: bahwa komik Indonesia pernah mengalami masa keemasan yang berpuncak pada tahun ’70-an; yang kedua adalah pasar komik Indonesia kini dipenuhsesaki oleh komik terjemahan yang sebagian besar dari Jepang. Dua hal ini dianggap sebagai perbincangan yang tidak produktif, karena cara memuji dan mengeluhkannya  menjadi sangat klise dan dan dianggap sebagai penanda kebuntuan 2.


          Ketika industri komik mulai bergeliat dengan ditandai dengan meningkatnya jumlah cetak yang cukup tinggi. Pada tahun ’70-an  produksi komik meningkat berkat kemajuan ekonomi. Jumlah komik yang diterbitkan pada waktu itu mencapai angka dua hingga tiga juta eksemplar. Jumlah ini menempatkan komik di urutan pertama dalam penerbitan. Peranan taman bacaan dan kebiasaan membaca membawa dampak yang cukup besar 3. Kajian-kajian terhadap komik yang muncul pada waktu itu terhitung masih sangat minim. Jumlah komik yang muncul dan besarnya antusias masyarakat perkotaan terhadap komik belum bisa diimbangi dengan kajian-kajian yang bersifat mendalam dan ilmiah, sehingga respon yang munculpun sedikit banyak terjebak pada wilayah teknis penceritaan saja.


          Menjelang gelaran Festival Komik Nasional 2017 (FKN 2017) yang akan diadakan di Jogja National Museum, saya berkesempatan mewancarai Asnar Zacky, salah seorang staf pengajar program studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa, ISI yogyakarta sekaligus salah satu tokoh penting dalam kelahiran mata kuliah komik di prodi DKV. Menyitir apa yang disampaikan oleh Baskoro Suryo Banindro, Ketua Program Studi DKV FSR ISI Yogyakarta, 1996 – 2004 dalam Lahirnya Komik di Sekolah Toekang Reklame FSR ISI Yogyakarta (2012) Komik pertama kali muncul sebagai nama mata kuliah atas masukan Asnar Zacky, salah satu alasan yang dikemukakan yaitu guna menampung ide-ide kreatif yang tidak tertampung di mata kuliah ilustrasi, yang semula komik-komik strip baru jadi salah satu bentuk tugas dalam mata kuliah ilustrasi, selain tentunya juga melihat dinamika jagat komik yang kembali menghangat, terlebih dengan mulai masuknya manga Jepun. Ide itu sambung bergayut, dimana di saat isu mata kuliah muatan lokal (KURLOK) harus dimiliki sebuah program studi, maka komik diusulkan sebagai Mata Kuliah Pilihan Bebas (MKPLB). Tahun 1997 kurikulum nasional (KURNAS) ditetapkan sebagai salah satu kebijakan nasional pendidikan di perguruan tinggi, maka mata kuliah komik pada akhirnya dijadikan MKPL Wajib bagi seluruh mahasiswa di prodi Disain Komunikasi Visual hingga saat ini 4.


          Selasa, 6 Juni 2017 saya berkesempatan  berbincang bersama Asnar Zacky, pengajar di program studi Desain Komunikasi Visual ISI Yogyakarta ekaligus salah seorang yang membidani lahirnya mata kuliah komik. Perbincangan mulai dari komik (di) Indonesia hingga dimasukannya komik sebagai mata kuliah. Berikut perbincangan bersama Asnar Zacky, Selasa, 6 Juni 2017


Selamat siang Pak Zacky, Bagaimana pendapat Anda mengenai awal kemucunculan Komik di Indonesia?


Begitu merdeka, komik di Indonesia melonjak produktif. Ada kegembiraan dalam berekspresi. 15 tahun pasca kemerdekaan dianggap sebagai generasi pertama. Di situ topiknya macam-macam; ada wayang, kepahlawanan, mitos, dan sejarah, juga cerita rakyat. Pada masa-masa ini saya  masih sempat menikmati sisa-sisa kejayaan awal kemunculan komik di Indonesia, hingga kira-kira sampai tahun 60 awal. Sayangnya, memasuki periode 60-an, pada waktu itu komik terkena imbas dari kondisi politik. Salah satu yang saya ingat adalah komik/cergam barat diberangus. Istilah komik pada waktu itu diganti cergam (cerita bergambar). Jadi bukan lagi komikus, tapi cergamis. Komik di Indonesia yang berlatar luar negeri menghilang. Impor dilarang. Komik lokal yang dimasyarakatkan harus melalui Badan Sensor Kepolisian Metro Jaya. Semua harus dicap. Ada cap Metro Jaya. Tanpa itu komik di larang beredar, tanpa itu dianggap barang terlarang. 


Ini menarik. Perihal kemunculan komik di Indonesia,  yang Pak Zacky ingat seperti apa?


Put on, sebagai “cikal bakal” lahirnya komik-komik di Indonesia dari tahun 1931 sampai pasca kemerdekaan. Kalau yang asli dari masa kemerdekaan, yang populer ya R.A Kosasih dengan Mahabarata dan Ramayana-nya. Hingga sampai sekarang dianggap sebagai bapak cergamis atau komikus, karena dia murni bercerita melalui komik panjang berseri, kalau Put On populer karena komik strip-nya di Koran. 


Bagaimana respon masyarakat terhadap komik Indonesia di awal-awal kemunculannya? Sering ke toko buku?


Dulu banyak orang miskin. Jadi, kami cuma bisa menyewa. Pusat persewaan komik banyak tersebar di kampung-kampung. Dulu banyak ditemui komik-komik seperti Wiro, Cerita Punakawan, Mentjari Putri Hidjau dan masih banyak lagi.


Kondisi Persewaan komik di Jogja seperti apa, Pak? 


Sekitar awal 70-an, orang-orang banyak yang bikin kios. Semacam kios rokok di teras rumah, atau banyak juga yang memanfaatkan garasi buat persewaan komik. Rak-rakan penuh dengan komik. Beberapa lokasi yang saya ingat pada waktu itu ada di Ngampilan, Ngadiwinatan, Pathuk, Ngasem, Bausasran, dan masih banyak lagi. Kurang lebih ada 30 titik lebih. Mirip laundry jaman sekarang, dimana-mana ada. 


Yang paling berkesan dari Komik karya siapa?


Komik wayang karya Ardi Soma. Gambarnya lebih artistik dibanding komikus yang lain pada waktu itu. Fantasi imajinasinya lebih menarik. Cara menggambarkan lebih menarik, dunia imajinasinya lebih kompleks. Bagi saya ini menarik.


Bagaimana dengan penyebaran komik di Indonesia? Daerah mana saja yang menjadi titik berkembangnya komik di Indonesia? 


Tentunya di Kota-kota besar. Untuk Jawa seperti Jakarta, Bandung, Jogja, Surabaya, Semarang. Kalau di luar Jawa biasanya komik dikirim oleh distributor ke ibukota provinsi. Kalau di Sumatra ada di Medan, Padang dan beberapa kota lain. 


Perjalanan komik di Indonesia sebenarnya seperti apa, Pak? Pasang surutnya?

Ada periode dimana  muncul kebosanan. Surut. Nyaris gak ada yang “berkarya”, dalam artian melakukan kreasi tehadap tema-tema baru. Rentang tahun  75-menjelang 90, masa masa 15 tahun komik Indonesia suram. Komikus mulai jarang berkreasi. Komik Jepang mulai masuk. Candy-Candy, Sailormoon, gambarnya dirasa lebih indah, dan lebih murah dibanding komik Indonesia waktu itu. Dan dari eropa muncul Rintitin, Lucky Luck. Selanjutnya DC Comic dengan, salah satunya, Superman, Walt Disney dengan Snow White-nya dan masih banyak contoh lainnya, juga ada Marvel yang menggelontorkan karya-karyanya sehingga rak-rak di toko buku, kios persewaan makin lama makin didominasi dengan karya-karya luar. Yang saya ingat waktu itu, toko buku yang menjual komik mulai bermunculan. Pada masa surut ini hanya beberapa komikus saja yang tersisa, sisanya jadi illustrator. Salah satu yang saya ingat:Teguh Santoso. Ia menjadi salah satu komikus yang tetap berkarya waktu itu, Ia bahkan sempat dikontrak oleh Marvel sebagai inker. 

Pak Zacky mulai mengajar tahun 80-an, bagaimana amatan mengenai komik dan komikus era 80-an? 

Sebenarnya pada waktu itu kesempatan untuk berkreasi terbuka lebar. Sayangnya, saya lihat kecenderungan komikus lokal ikut arah angin dimana yang disukai masyarakat, begitu laku keras, maka digeruduk rame-rame, akibatnya karya-karya yang muncul hampir senada. Begitu silat laris, hampir sebagian besar komikus menggarap genre silat. 

Dalam pengkaryaan, apakah ada pengaruh dari komik dan budaya luar? Dalam artian luar negeri? 

RA Kosasih membuat Sri Asih, Kemunculan Sri Asih ada pengaruh dari kemunculan Wonder Woman. Sri Asih muncul dan cukup disukai orang. Selanjutnya ada  Hasmi dengan Gundalanya, Wid NS  dengan Godham. Karya-karya pada waktu itu, baik proporsi tubuh dan wajahnyapun dikonstruksi menyerupai barat.  

Ini menarik, saya ingin bertanya perihal Sri Asih dan Wonder Woman. Tanggapan Pak Zacky?

Wonder Woman, Ksatria dengan baju logam. Mengesankan futuristik. Kalau Sri Asih ada nilai-nilai lokal yang kuat, seperti penggunaan sumping wayang, sampur, dan kan batik. Sri Asih bisa terbang. Kalau Wonder Woman melompat jauh. Yang jelas lebih sakti Sri Asih…hehehhee

Dengan masuknya komik-komik luar, Komik Jepang misalnya. Bagaimana pengaruhnya terhadap industri komik Indonesia? 

Nilai-nilai lokal, karakter lokal menjadi kurang populer dan kalah laris. Dan tentu saja memprihatinkan. Karena pertimbangan industri, strategi yang digunakan penerbitpun mengarah ke jepang-jepangan, baik karakter tokoh, maupun setting tempat dan penamaannya dibuat ke jepang-jepangan. Dampaknya, komik dengan cita rasa Indonesia surut, tidak laku. Selanjutnya, mungkin ini menjadi respon atas kondisi tersebut. Dengan semangat indie, komunitas-komunitas komik justru bermunculan di kampus-kampus, salah satunya di ISI mulai bermunculan.

Atas fenomena tersebut, bagaimana respon DKV? 

Sebagai program studi yang fokus pada desain komunkasi visual. Tahun 1994-an Saya (Asnar Zacky)  dan Pak Baskoro berdiskusi untuk merespon geliat komunitas komik yang muncul di kampus. Kita melihat ada semangat-semangat menggambar komik yang tumbuh melalui komunitas. Lantas, kami mencari ide baru. Kami mencoba memasukan komik dalam kurikulum sebagai Mata Kuliah Pilihan di DKV ISI.

Tujuannnya?

Agar komik bisa dibahas lebih ilmiah. Bisa jadi bahan penelitian dan bisa jadi karya tugas akhir, karena komik bukan sekadar kelas menggambar tapi juga meneliti. Dengan masuknya komik dalam kurikulum, diharapkan dapat membuka ruang-ruang diskusi lebih jauh.

Responnya seperti apa?

Waktu itu Sebagai Mata Kuliah Pilihan Bebas (MKPLB) pesertanya seluruh mahasiswa FSR. Angkatan pertama anak DKV belum ada yang daftar sebagai peserta MKPLB Komik. Justru yang pertama kali terdaftar sebagai peserta mata kuliah adalah Mahasiswa Patung, Desain Interieor, Seni Grafis, dan Kriya. Kita masih nyimpen karya mahasiswa dari Seni Patung, mewakili angkatan pertama. 

Corak komik pada angkatan pertama seperti apa?

Pada angkatan pertama, pengerjaan tugas-tugas komik tidak ada “pathokan” khusus, silakan mengembangkan corak khas, gayanya sendiri.

Proses perkuliahan seperti apa?

Dulu kuliah di lantai tiga. Menggambar  4 sampai 5 jam sehari. Dari pukul 9 sampai jam 14 karya harus selesai di kelas. Hal seperti ini terus berlangsung sampai angkatan ke 2-3, berarti sampai tahun ketiga mata kuliah komik masih diberlakukan praktik menggambar 4-5 jam, karya harus selesai! Ya, karena waktu itu pesertanya belum banyak. 

Bagaimana Kondisi perkuliahan? Terpengaruh komik luar?atau ada kewajiban harus bercorak Indonesia dalam berkarya?

Sebagian besar tugas harus diolah dengan semangat citra lokal. Masing-masing peserta harus mampu mengeluarkan gaya sendiri dengan corak Indonesia.

Untuk tema-tema pada waktu itu?

Semua dicoba, dan kita mencoba ke hal-hal kecil. Kita waktu itu sesekali mencoba mengikuti keberhasilan tema-tema komik Jepang yang tidak populer, temanya kita ambil sebagai inspirasi tapi gaya dan corak tetap harus Indonesia. Misal: sekolah yang seram, boneka yang lucu, terjebak di toilet. Dulu minim contoh, cuma modal ngomong, dari hasil fotokopi, koleksi pribadi, sumbangan teman dan alumni,  atau malah dari film kadang-kadang contohnya.

Selama hampir 20 tahun  mata kuliah komik di DKV, apa ada periodisasi yang bisa dibuat, dari model pengkaryaan misalnya?

Kalau dari akademik ya dua saja: MKPL dan wajib, kalau dari sisi ide karya gak bisa diperiodekan, karena kita selalu mencoba ide yang baru dan mencoba menggambar di ragam media, misalnya di bantal, kaleng krupuk, gitar, lampu hias dan masih banyak lagi. Kita mencoba berkreasi dengan berbagai media, tapi sayangnya kelemahannya karya komik kita hanya berhenti sebagai koleksi kelas atau ruang galeri.

Untuk mahasiswa sekarang, dalam hal komik, apakah ada pengaruh media sosial?

Seandainya media sosial ada sejak dulu, dan mahasiswa DKV sini rutin unggah karya mungkin kita akan memiliki posisi tawar lebih menarik, dan tentu saja akun-akun media sosial tersebut bisa menjadi ruang arsip. Dan mungkin jika ada yang mengaku-ngaku lebih dulu pakai metode A, Pakai Media B, misalnya seperti nyetak komik di bantal, kita sudah lebih dulu!, Kita bisa menunjukan.

Bagaimana dengan tren mahasiswa dalam mendalami komik pada saat ini?

Trennya sekarang, kalau mahasiswa sini (baca: DKV ISI YK) sebagian besar  menggunakan referensi komik cetak, meski di intenet juga banyak. Sebagian  menggunakan komik jaman dulu sebagai bentuk riset. Karena kekuatan DKV sini ada kan pada riset dan sifat manualnya.

Mengenai referensi komik cetak di Indonesia menurut Pak Zacky?

Menurut saya baik, tidak melupakan sejarah, dan tidak terbawa angin. Karena komik bukan sekadar belajar menggambar tapi juga belajar mengenai wawasan komik yang berbasis riset.

Menurut Pak Zacky, perihal festival Komik. Bagaimana dengan FKN (Festival Komik Nasional)?

Banyak festival festival komik di luar sana. setidaknya FKN bisa memberikan kegiatan yang lebih spesifik dan khas agar tidak sama dan atau tidak mengulang seperti kebanyakan kegiatan yang lain. 

Harapan untuk komik di DKV ISI YK?

Tetap berkarya dan berkreasi. Tidak meninggalkan proses kerja-kerja manual, karena sejarah panjang kita ASRI, yang dikenal orang karena manualnya. Jadi kalau ada empat tugas kuliah –misalnya- ya yang dua manual. Selebihnya silakan berkreasi. Semangatnya tetap: komik bukan sekadar menggambar tapi juga meneliti.

Profil audiovisual Asnar Zacky bisa dilhat di youtube
https://www.youtube.com/watch?v=AY7XnFNSt1w

------------------------------------------------------------------------------------

1 Lihat Boneff. 1988. Komik Indonesia. KPG: Jakarta. Halaman 21
2 Lihat Ajidarma.2011. Panji Tengkorak;Kebudayaan dalam Perbincangan.KPG: Jakarta. Halaman 5
3 Lihat Boneff. 1988. Komik Indonesia. KPG: Jakarta. halaman 85
4 Lihat, Baskoro Suryo Banindro dalam buku kenangan REUNI “KADIKA” ASRI, STSRI, FSR ISI Yogyakarta, PSDKV 2012, halaman, 6-7